ANAK BERKEBUTUHAN KUSUS
(ABK)
A. Pengertian Anak Berkebutuhan Kusus
Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa,
waktu terjadinya anak ABK
prenatalà yaitu terjadi sebelum kelahiran (masa pregnancy)
natal dan perinatal à saat kelahiran dan sesaat setelah dan sebelum kelahiran
post natal à terjadi setelah masa kelahiran sampai masa tumbuh-kembang anak
B. Macam – Macam ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) DI SLB ABCD PGRI 2 Jajag
1. Tunanetra ( A)
Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam
penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah
penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau
tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam
indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain
yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus
diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media
yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan
media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS.
Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai
Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas
diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta
bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium)
2.
Tunarungu (
B )
Tunarungu adalah individu yang
memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen.
Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:
1. Gangguan pendengaran sangat ringan (27-40dB),
2.
Gangguan
pendengaran ringan (41-55dB),
3.
Gangguan
pendengaran sedang (56-70dB),
4.
Gangguan
pendengaran berat (71-90dB),
5.
Gangguan
pendengaran ekstrem/tuli (di atas 91dB).
Karena memiliki hambatan dalam
pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga
mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu
menggunakan bahasa isyarat,
untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat
bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang
dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan
melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu
cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.
3. Tunagrahita (C)
Tunagrahita adalah individu yang
memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah
rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul
dalam masa perkembangan. klasifikasi tunagrahita
berdasarkan pada tingkatan IQ.
1. Tunagrahita ringan debil (IQ : 50-70),
Kemampuan
intelektual setara dengan anak normal usia (ma) 9 – 13 tahun
Dapat
menyelesaikan pendidikan pada tingkat sekolah dasar
Dapat
bekerja pada tingkat prevokasional
2. Tunagrahita sedang embisil (IQ : 30-50),
Kemampuan
maksimal setara dengan anak normal usia 5 – 9 tahun
Tidak
mampu menyelesaikan pendidikan formal tingkat sd
Mampu
dilatih keterampilan kehidupan sehari-hari
Dapat
dipekerjakan tingkat prevokasional pada tempat yang terlindung (sheltered
workshop)
3. Tunagrahita berat idiot (IQ : 20-30)
Kemampuan
maksimal setara anak usia 4,5 tahun
Tidak
mampu dididik dan dilatih
Dapat
dikondisikan (pembiasaan) pada kebersihan diri (toiletry) dan menghindarkan
diri dari hal berbahaya
Seumur
hidupnya sangat bergantung dari orang dewasa
Pembelajaran bagi individu
tunagrahita lebih di titik beratkan pada kemampuan bina diri dan sosialisasi.
Karakteristik Pembelajaran Anak Tunagrahita
1.
Keterbatasan
berpikir abstrak
2.
Memorinya
pendek
3.
Kesulitan
bernalar, memahami hubungan sebab akibat, mengekspresikan ide-ide
4.
Kurang
mampu menemukan kaidah dalam belajar
5.
Lemah
dalam gestal (keutuhan), melihat sesuatu selalu secara bagian-bagian
6.
Kurang
mampu mengikuti petunjuk
7.
Butuh
tempo lama dalam belajar
4.
Tunadaksa (D)
Tunadaksa adalah individu yang
memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat
kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa
adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu
memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat
yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu
mengontrol gerakan fisik.
Klasifikasi “TUNA DAKSA” menurut ( Frances G. Koenig ) :
1. Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau merupakan faktor keturunan :
a. Club-foot (kaki seperti tongkat) ,, Club-hand (tangan seperti tongkat)
b. Polydactylism (jari yang lebih dari 5 pada tangan atau kaki)
c. Syndactylism (jari yang berselaput atau menempel dengan jari yang lain)
d. Torticollis (gangguan pada leher sehingga kepala terkulai ke muka)
e. Congenital amputation (bayi yang dilahirkan tanpa anggota tubuh tertentu)
2. Kerusakan pada waktu kelahiran :
a. Erb’s palsy (kerusakan syaraf lengan akibat tertekan saat melahirkan)
b. Fragilitas osium (tulang yang rapuh dan mudah patah)
3. Infeksi
a. Tuberkulosis tulang (menyerang sendi paha sehingga menjadi kaku)
b. Osteomyelitis (radang sumsum tulang karena bakteri)
c. Poliomyelitis (infeksi virus yang menyebabkan kelumpuhan)
d. Still’s disease (radang tulang yang menyebabkan kerusakan permanen)
4. Kondisi atau kerusakan traumatik
a. Amputasi
b. Kecelakaan akibat luka bakar
c. Patah tulang
5. Tumor
a. Oxostosis (tumor tulang)
b. Osteosis fibrosa cystica (kista /kantang yang berisi cairan dlm tulang)
6. Flatfeet (telapak kaki yang rata, tidak berteluk)
7. Scilosis (tulang belakang yang berputar, bahu &paha yang miring)
8. Perthes’ disease (sendi paha yang rusak atau mengalami kelainan)
9. Kyphosis (bagian belakang sumsum tulang belakang yang cekung)
10. Lordosis (bagian muka sumsum tulang belakang yang cekung
1. Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau merupakan faktor keturunan :
a. Club-foot (kaki seperti tongkat) ,, Club-hand (tangan seperti tongkat)
b. Polydactylism (jari yang lebih dari 5 pada tangan atau kaki)
c. Syndactylism (jari yang berselaput atau menempel dengan jari yang lain)
d. Torticollis (gangguan pada leher sehingga kepala terkulai ke muka)
e. Congenital amputation (bayi yang dilahirkan tanpa anggota tubuh tertentu)
2. Kerusakan pada waktu kelahiran :
a. Erb’s palsy (kerusakan syaraf lengan akibat tertekan saat melahirkan)
b. Fragilitas osium (tulang yang rapuh dan mudah patah)
3. Infeksi
a. Tuberkulosis tulang (menyerang sendi paha sehingga menjadi kaku)
b. Osteomyelitis (radang sumsum tulang karena bakteri)
c. Poliomyelitis (infeksi virus yang menyebabkan kelumpuhan)
d. Still’s disease (radang tulang yang menyebabkan kerusakan permanen)
4. Kondisi atau kerusakan traumatik
a. Amputasi
b. Kecelakaan akibat luka bakar
c. Patah tulang
5. Tumor
a. Oxostosis (tumor tulang)
b. Osteosis fibrosa cystica (kista /kantang yang berisi cairan dlm tulang)
6. Flatfeet (telapak kaki yang rata, tidak berteluk)
7. Scilosis (tulang belakang yang berputar, bahu &paha yang miring)
8. Perthes’ disease (sendi paha yang rusak atau mengalami kelainan)
9. Kyphosis (bagian belakang sumsum tulang belakang yang cekung)
10. Lordosis (bagian muka sumsum tulang belakang yang cekung