Sabtu, 31 Oktober 2015

ANAK BERKEBUTUHAN KUSUS



ANAK BERKEBUTUHAN KUSUS

(ABK)

A.       Pengertian Anak Berkebutuhan Kusus

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa,

     waktu terjadinya anak ABK
prenatalà yaitu terjadi sebelum kelahiran (masa pregnancy)
natal dan perinatal à saat kelahiran dan sesaat setelah dan sebelum kelahiran
post natal à terjadi setelah masa kelahiran sampai masa tumbuh-kembang anak

 

B.        Macam – Macam ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) DI SLB ABCD  PGRI 2 Jajag

 

1.      Tunanetra ( A)

Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium)
2.      Tunarungu ( B )
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:
1.      Gangguan pendengaran sangat ringan      (27-40dB),
2.      Gangguan pendengaran ringan                 (41-55dB),
3.      Gangguan pendengaran sedang                (56-70dB),
4.      Gangguan pendengaran berat                   (71-90dB),
5.      Gangguan pendengaran ekstrem/tuli         (di atas 91dB).
Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.
3.      Tunagrahita (C)
Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul dalam masa perkembangan. klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ.
1.      Tunagrahita ringan debil  (IQ : 50-70),
Kemampuan intelektual setara dengan anak normal usia (ma) 9 – 13 tahun
Dapat menyelesaikan pendidikan pada tingkat sekolah dasar
Dapat bekerja pada tingkat prevokasional
2.      Tunagrahita sedang embisil (IQ : 30-50),
Kemampuan maksimal setara dengan anak normal usia 5 – 9 tahun
Tidak mampu menyelesaikan pendidikan formal tingkat sd
Mampu dilatih keterampilan kehidupan sehari-hari
Dapat dipekerjakan tingkat prevokasional pada tempat yang terlindung (sheltered workshop)
3.      Tunagrahita berat idiot (IQ : 20-30)
Kemampuan maksimal setara anak usia 4,5 tahun
Tidak mampu dididik dan dilatih
Dapat dikondisikan (pembiasaan) pada kebersihan diri (toiletry) dan menghindarkan diri dari hal berbahaya
Seumur hidupnya sangat bergantung dari orang dewasa
Pembelajaran bagi individu tunagrahita lebih di titik beratkan pada kemampuan bina diri dan sosialisasi.
Karakteristik Pembelajaran Anak Tunagrahita
1.      Keterbatasan berpikir abstrak
2.      Memorinya pendek
3.      Kesulitan bernalar, memahami hubungan sebab akibat, mengekspresikan ide-ide
4.      Kurang mampu menemukan kaidah dalam belajar
5.      Lemah dalam gestal (keutuhan), melihat sesuatu selalu secara bagian-bagian
6.      Kurang mampu mengikuti petunjuk
7.      Butuh tempo lama dalam belajar
4.      Tunadaksa (D)
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
Klasifikasi “TUNA DAKSA” menurut ( Frances G. Koenig ) :
1. Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau merupakan faktor keturunan :
    a. Club-foot (kaki seperti tongkat) ,, Club-hand (tangan seperti tongkat)
    b. Polydactylism (jari yang lebih dari 5 pada tangan atau kaki)
    c. Syndactylism (jari yang berselaput atau menempel dengan jari yang lain)
    d. Torticollis (gangguan pada leher sehingga kepala terkulai ke muka)
    e. Congenital amputation (bayi yang dilahirkan tanpa anggota tubuh tertentu)

2. Kerusakan pada waktu kelahiran :
    a. Erb’s palsy (kerusakan syaraf lengan akibat tertekan saat melahirkan)
    b. Fragilitas osium (tulang yang rapuh dan mudah patah)

3. Infeksi
    a. Tuberkulosis tulang (menyerang sendi paha sehingga menjadi kaku)
    b. Osteomyelitis (radang sumsum tulang karena bakteri)
    c. Poliomyelitis (infeksi virus yang menyebabkan kelumpuhan)
    d. Still’s disease (radang tulang yang menyebabkan kerusakan permanen)

4. Kondisi atau kerusakan traumatik
    a. Amputasi
    b. Kecelakaan akibat luka bakar
    c. Patah tulang

5. Tumor
    a. Oxostosis (tumor tulang)
    b. Osteosis fibrosa cystica (kista /kantang yang berisi cairan dlm tulang)

6. Flatfeet (telapak kaki yang rata, tidak berteluk)

7. Scilosis (tulang belakang yang berputar, bahu &paha yang miring)

8. Perthes’ disease (sendi paha yang rusak atau mengalami kelainan)

9. Kyphosis (bagian belakang sumsum tulang belakang yang cekung)

10. Lordosis (bagian muka sumsum tulang belakang yang cekung







Tidak ada komentar:

Posting Komentar